MEDITASI atau DOA ?

9 02 2009

MEDITASI atau DOA ?

Meditasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari latihan untuk membangkitkan ‘kekuatan batin’ dalam diri manusia dan yang ditujukan untuk mencari ketenangan hidup, relaksasi, dan kelepasan. Dalam agama kebatinan (pantheis/mistik) maupun yang mempercayai animisme dan magisme, praktek meditasi atau yang sekarang diperhalus disebut kontemplasi atau konsentrasi, merupakan salah satu cara populer untuk membangkitkan ‘energi vital/tenaga hidup’ dalam diri manusia disamping cara lain seperti latihan pernafasan dan gerakan tubuh.

“Untuk mengalami Tenaga Hidup sepenuhnya, Anda harus mengendalikan pikiran dari perasaan Anda. Hal itu berarti Anda harus menguasai keterampilan menjernihkan pikiran dan berkonsentrasi. Yang saya maksudkan di sini adalah sungguh-sungguh berkonsentrasi seperti yang belum pernah Anda lakukan … Dan bagaimana cara terbaik untuk mencapai hal ini? Cukup mudah. Bermeditasi … bermeditasi … dan sekali lagi bermeditasi.” (Leo F. Ludzia, Tenaga Hidup, hlm.113)

Dalam kebatinan Hindu, meditasi merupakan latihan pengendalian mental yang penting yang dipraktekkan melalui yoga.

“YOGA … Seorang bangsa India penganut agama Hindu yang mempunyai tujuan utama untuk melatih pikiran dan tubuh sebagai satu keseluruhan. Untuk mencapai wawasan spiritual dan ketenangan yang dicapai melalui latihan serangkaian postur khusus yang disebut asana, latihan pernafasan yang disebut pranayama, pengendalian mental melalui meditasi, berbagai tehnik pembersihan dalam, dan pengendalian serta manipulasi suatu energi fundamental yang disebut prana … Tujuan seorang siswa yang melakukan praktek yoga adalah untuk mempersatukan ketiga unsur tersebut dan mencapai persatuan dengan ‘Sang Tuhan’ atau ‘Pikiran Alam Semesta’.” ( Ibid, hlm.35-36)

Dalam meditasi Yoga ada usaha untuk mencapai persatuan At-man dengan Brahman, antara diri (self) manusia kepada diri Alam yang tidak berpribadi (Yang SATU itu), dan ini dilakukan dengan pengendalian diri dengan kekuatan sendiri. Prinsip meditasi yang sama sekali pun dengan istilah berbeda dapat dilihat dalam kebatinan Cina.

“meditasi merupakan keadaan mental terbaik untuk memelihara Chi. Sebuah buku Taoisme yang lain berjudul “Chung-tzu” menganjurkan pemanfaatan latihan pernafasan bersama dengan pengendalian pikiran seseorang untuk mengendalikan Chi. Pengendalian ini untuk mempersatukan diri seseorang dengan alam semesta dan Chi bertindak sebagai perantara atau daya pengikat.” (Ibid, hlm.22)

Disini juga jelas bahwa meditasi itu mempunyai dua tujuan sekaligus, yang vertikal yaitu penyatuan dengan nafas semesta dan yang kedua secara horisontal tujuannya untuk mengatur kekuatan dalam dirinya untuk mencapai keseimbangan diri untuk memperoleh ketenangan, kesehatan, relaksasi, bahkan kelepasan.

Meditasi mencapai puncaknya dalam pertemuan Buddhisme dan Taoisme yang lebih dikenal sebagai Zen Buddhisme dimana:

“Meditasi Zen dari Zazen mengkondisikan seseorang untuk memasuki dunia meditasi, tempat arus pikiran kacau yang terus menerus berhenti memenuhi alam pikiran. ” (Ibid, hlm.26)

Berbeda dengan meditasi dalam Hinduisme dan Taoisme dimana meditasi ditujukan untuk menyatukan aku/diri (self, atman dalam Hindusisme) sendiri yang ‘ada’ kepada aku/diri alam semesta yang ‘ada’, maka dalam Zen Buddhisme, meditasi ditujukan untuk menyatukan ‘yang ada menuju yang tidak ada’ dalam aku/diri manusia kepada ‘yang ada menuju yang tidak ada’ aku/diri alam semesta, untuk mencapai pencerahan (satori) dimana tercapai apa yang disebut keadaan ‘ketidak ada-an aku’ (an-atman atau an-atta).

Masakini ada tiga tokoh di Indonesia yang dikenal luas mempopulerkan meditasi para profesional dan umum, yaitu Anand Krishna, Luh Ketut Suryani, dan Panyya Segara Merta Ada. Ketiga tokoh meditasi adalah tokoh agama Hindu. Sejak tahun 1987, Anand Krishna mendirikan ‘Centre for Holistic Healing & Meditation Anand Ashram’ dan menerima murid untuk berlatih meditasi:

“Di tempat itu secara berkala dilakukan latihan-latihan meditasidan relaksasi untuk mencapai ketenangan batin atas dasar kesadaran yang tumbuh dari dalam.” (Majalah Kartini, no.559, hlm.113)

Menurut Merta, pendiri Bali Usaha Meditasi, tehnik meditasi ada dua:

“Pertama meditasi konsentrasi, yang menerapkan tehnik memfokuskan pikiran ke satu obyek, hingga terjadi penyatuan dengan cara menyebut mantra-mantra tertentu, memandang cahaya lilin, dan sebagainya. “Dengan cara itu, muncullah kekuatan supranatural, sesuai dengan arah yang dikehendaki.” Kedua, meditasi kebijaksanaan, tehnik untuk menghilangkan reaksi buruk di dalam memori: keserakahan, kebencian, dan kebodohan. “Sehingga akhirnya kita menjadi orang yang baik, sesuai dengan agama masing-masing.” (Majalah Gatra, 7 Agustus 1999, hlm.26)

Umumnya dikatakan bahwa meditasi bisa diikuti oleh pengikut semua agama karena ditujukan kepada ‘Yang SATU itu’, tetapi dari praktek maupun yang diajarkan, agama di balik meditasi adalah agama pantheistik Hindu, Buddha atau Tao bahkan Merta melatih juga mantera Hindu, sedangkan yang disebut ‘Yang SATU itu’ adalah kekuatan/nafas semesta tidak berpribadi dan manusia adalah sebagian dari itu, atau dapat disebut bahwa kalau ‘Yang SATU itu’ disebut Tuhan, maka diri manusia juga sama dengan Tuhan. Shirley McLaine, mewakili faham New Age, menyebut dirinya‘I am God,’ dan dalam serial Star Wars disebut “May The Force be with you.”

Banyak orang mempertanyakan “bolehkan orang Kristen bermeditasi?” Soalnya dalam usaha inklusivisme universalistis dan sinkretisme, ‘Yang SATU itu’ dianggap Tuhan semua agama, dan bagi umat Kristen, baik konsentrasi mapun meditasi dikaburkan dengan menerjemahkan tujuannya menuju ‘Kristus.’ Ini merupakan strategi misi agama mistik yang dengan mudah memasuki agama Kristen.

Situs Christian Meditation sekalipun ingin menghadirkan meditasi gaya kristen, tapi situsnya memuat rujukan ke ‘Mindfulness Mediation’ yang bermisi ‘to create a community of compassionate individuals in learning how to connect with their spiritual selves through meditation.’ Jadi, Yang SATU itu tidak lain identik dengan ‘spiritual self’ dalam diri manusia. Untuk diketahui bahwa situs Mindfulness Meditation memuat gambar patung Buddha bermeditasi, dan merujuk ke ‘Buddhisme Meeting group’ dan ‘Zen Meditation group.’

Sebuah meditasi kristen di Indonesia juga menyiarkan hal yang mirip:

“Pikiran memiliki beberapa fase gelombang. … Beta … Alpha … Tetha. Kondisi yang lebih dalam lagi.

PADA SAAT INILAH PEMULIHAN TERJADI….PIKIRAN DAN PERASAAN DAN TUBUH MELAKUKAN AUTO RECONSTRUCTION.” (Rina Silaen, Meditasi ala Kristen)

Ucapan ini menunjukkan pemulihan melalui usaha merekonstruksi diri sendiri. Namun, artikel yang sama memberinya nafas kristen, melanjutkannya dengan menyebut:

“….makanya proses pelepasan selalu terjadi ketika berada pada kondisi ini. Makanya orang yang sering menyembah Tuhan secara KHUSUK perasaannya jauh lebih kuat. KETIKA KITA MENYEMBAH TUHAN PADA KONDISI INI, FIRMAN MELEKAT JAUH LEBIH KUAT DI JIWA KITA. Makanya pada Meditasi rohani, ketika anda sudah berada pada kondisi Tetha, therapist akan membacakan Firman Tuhan Yesus yang bertemakan pemulihan…MAKANYA TIDAK HERAN setelah anda selesai meditasi anda merasa SANGAT SEGAR, KUAT, DAN PULIH. AMIN (Ibid)

Pemulihan dan pelepasan tercapai melalui latihan meditasi, yang secara sinkretis dianggap ‘menyembah Tuhan’ bahkan disebutkan dengan cara ini ‘Firman melekat lebih kuat di jiwa kita,’ bahkan ‘kesegaran, kekuatan dan pemulihan terjadi karena meditasi.’ Bandingkan ini dengan ucapan Anand Krishna:

“Tujuan meditasi itu universal, yaitu samadhi, yang dalam bahasa Sansekerta punya arti keseimbangan diri … Secara sederhana, keseimbangan diri adalah menemukan jati diri. Begitu seseorang menemukan jati diri, dia menemukan hubungannya dengan Tuhannya, dengan Allah.”

Istilah Tuhan dan Allah disini beda kandungannya dengan Tuhan dan Allah Kristen. Maka, sekarang jawab atas pertanyaan diatas mengenai ‘meditasi bagi orang Kristen’ tergantung apa yang kita maksudkan dan bagaimana melakukan ‘meditasi’ itu. Meditasi bisa berarti merenung atau samadi, dan ternyata penggunaan nama itu di Alkitab bahasa Inggeris berarti lain dibandingkan penggunaannya dalam agama/aliran Kebatinan, sedangkan praktek meditasi Kristen yang umum dipraktekkan setali tiga uang dengan meditasi mistik, kecuali istilahnya diganti berbau kristiani.

Dalam Alkitab bahasa Inggeris (Mazmur) istilah ‘meditate’ dalam bahasa Indonesianya disebut merenungkan Taurat (Yos.1:8;Maz.1:2), merenungkan Tuhan (Maz.63:7), merenungkan perbuatan Tuhan (Maz.77:13), merenungkan titah Tuhan (maz.119:15,78), merenungkan ketetapan Tuhan (Maz.119: 23,48), merenungkan Janji Tuhan (Mz.119:148), dan merenungkan pekerjaan Tuhan (Maz.143:5). Dari ayat-ayat tersebut kita dapat melihat bahwa ‘meditasi’ dalam Alkitab Inggeris selalu dikaitkan dengan ‘adanya tujuan tertentu’ dalam teologi Kristen, apakah itu merenungkan Taurat atau Tuhan sendiri. Bisa juga untuk merenungkan perbuatan, titah, ketetapan, janji atau pekerjaan Tuhan, jadi tujuannya jelas, dan meditasi ini dilakukan dalam doa atau saat teduh. Meditasi Alkitab ditujukan kepada Tuhan yang berpribadi, firmannya atau perintahnya dalam hubungan yang jelas antara ‘ciptaan dan penciptanya.’

Berbeda dengan itu, ‘meditasi mistik’ dilakukan dengan obyek diri sendiri dan biasanya dengan cara bernafas dan sikap/posisi tertentu, tujuannya lebih untuk mengarah pada self, pengolahan tenaga batin, penyatuan diri dengan sumber yang ‘ada’ (Hinduisme, Taoisme) atau penyatuan diri dengan sumber yang menjadi ‘tidak ada’ (Zen-Buddhisme), jadi sifatnya berorientasi pada diri sendiri atau alam, dari ciptaan kepada ciptaan. Apalagi meditasi kebatinan biasa diiringi dengan latihan pernafasan dalam posisi lotus (piramid) dan otot dikendorkan, atau dengan posisi-posisi berubah-ubah seperti dalam Yoga. Yang jelas meditasi adalah olah-pikiran yang juga sering diiringi pengucapan mantera.

Dari perbandingan di atas, kita dapat melihat adanya perbedaan yang jelas antara kedua bentuk meditasi itu, dan karena istilah ‘meditasi’ sudah umum dikenal sebagai meditasi kebatinan, maka bagi umat Kristen, untuk membedakannya, lebih baik kita menggunakan terjemahan bahasa Indonesia yaitu ‘melakukan saat teduh/merenungkan’ daripada menggunakan terjemahan bahasa Inggeris ‘meditate/meditation’ yang mengarah pada pengertian kebatinan dan berkonotasi New Age.

Memang, sekarang banyak orang kristen tanpa sadar sudah menjadi target sinkretisme misi agama mistik yang berfaham universalisme (semua agama sama) melalui jargon ‘pengembangan diri, berfikir positif, atau meditasi kristen’ yang mengabaikan adanya dosa dalam diri manusia dan mereka sebenarnya membutuhkan juruselamat dan bukan menjadi juru selamat bagi diri sendiri menuju pelepasan. Motivator kristen banyak yang mempopulerkan slogan:

“If it is to be, it is up to me.”

Umat Kristen perlu mengetahui bahwa dalam pelayanannya, Yesus dan Para rasul tidak pernah mengajarkan meditasi, latihan pernafasan, atau latihan gerak, mereka mengajarkan kehidupan yang benar yang berhubungan dengan datang kepada Tuhan Yesus Kristus dan bukan dengan cara penguasaan diri dan pikiran yang ditujukan kepada diri sendiri dan manusia menjadi juruselamat bagi dirinya sendiri. Yesus dan Para Rasul mengajarkan agar kita ber’doa’ yang ditujukan kepada Tuhan, Allah Bapa di Surga (Matius 6:5-15). Tuhan Yesus berfirman:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Matius 11:28-30).


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: