Dukungan Moral Misi

6 02 2009

Februari 2009, Vol.12 No.5
______________________________ e-JEMMi _____________________________
(Jurnal Elektronik Mingguan Misi)
______________________________________________________________________
SEKILAS ISI

EDITORIAL
ARTIKEL MISI: Dukungan Moral Misi
SUMBER MISI: Living Hope Haiti Christian Mission
DOA BAGI MISI DUNIA: Azerbaijan, Algeria
DOA BAGI INDONESIA: Dampak Krisis Terhadap Kesehatan Ibu dan Anak

______________________________________________________________________

KEEP YOUR EYES ON THE LORD, HE NEVER TAKES HIS EYES OFF YOU
______________________________________________________________________
EDITORIAL

Shalom,

Jika Anda ingin terlibat dalam pelayanan misi, tidak selamanya Anda
akan terlibat secara langsung di lapangan. Perlu diingat bahwa
Tuhan memberikan karunia yang berbeda-beda kepada setiap orang
percaya untuk saling memperlengkapi dan mendukung satu dengan yang
lainnya. Edisi e-JEMMi bulan Februari ini mengusung tema Mendukung
Pelayanan Misi. Tujuannya adalah untuk mengajak kita semua belajar
bagaimana kita dapat mendukung gerakan pekabaran Injil-Nya.

Ada banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk terlibat dalam
pelayanan misi, baik di Indonesia maupun di dunia. Salah satu di
antaranya adalah dengan memberikan dukungan moral bagi rekan Anda
yang hendak melayani di ladang misi. Tidak harus memberikan uang
yang banyak, dan tidak juga harus memberikan banyak waktu jika Anda
memang tidak memilikinya. Anda cukup memberikan hati yang
berkobar-kobar dengan kasih Kristus dan perkataaan yang memberikan
semangat. Disadari atau tidak, apa yang Anda lakukan ini dapat
menjadi sebuah “kekuatan” bagi mereka yang hendak diutus ke ladang
misi. Selamat melayani.

Pimpinan Redaksi e-JEMMi,
Novita Yuniarti

______________________________________________________________________
ARTIKEL MISI

DUKUNGAN MORAL MISI

Dukungan moral merupakan hal yang paling mendasar dari sistem
dukungan. Setiap orang bisa mengambil bagian dalam pelayanan ini.
Karena konsep yang paling mendasar, cukup dengan mengatakan, “Allah
memberkati Anda. Kami sungguh bangga dengan petualangan misionaris
yang Anda lakukan!” Apakah orang-orang besar dalam Alkitab
membutuhkan dukungan moral? Baiklah, kita melihat beberapa contoh.

Daud Menemukan Kekuatannya dalam Allah

Ketujuh anak laki-laki Isai telah ditolak oleh Allah; “Karena, Tuhan
melihat tidak seperti yang dilihat manusia. Sebab, manusia melihat
penampilan bagian luarnya, sedangkan Tuhan memandang hatinya.” Isai
masih memiliki seorang anak laki-laki bungsu. Seorang anak yang
masih remaja. Mereka membawa dia dari padang, tempat ia
menggembalakan domba ayahnya. Dan, Tuhan berfirman, “Bangunlah,
urapilah dia, karena inilah dia!” Maka, Roh Allah menyertai Daud
sejak hari ia diurapi.

Melalui pertempuran melawan Goliat, pergumulan menghadapi
kecemburuan Raja Saul, melewati peperangan yang penuh risiko selama
berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun menjadi buronan, dikejar-kejar
oleh seorang raja yang diganggu oleh roh jahat, serta melewati
konflik dalam membangun kekuasaannya dengan enam ratus orang
prajurit yang kejam dan tak mengenal belas kasihan, Roh Tuhan masih
berpihak dan berada dalam diri Daud. Sementara orang-orang Filistin
bersatu melawan Israel, Daud dan orang-orangnya berada di pihak
orang-orang Filistin. Tapi, ketidakpercayaan terhadap orang-orang
Ibrani itu mengganggu pikiran orang-orang Filistin. Daud bersama
orang-orangnya disuruh kembali ke Ziklag hanya untuk mendapati bahwa
orang-orang Amalek telah menyerang dari Selatan, membakar kota, dan
membawa pergi istri dan anak-anak mereka. Mereka menangis hingga tak
mampu lagi untuk menangis. Daud sangat tertekan, karena
orang-orangnya menentang dia. Namun, Daud menguatkan dirinya dalam
Tuhan (1 Samuel 30).

Bayangkan, kondisi saat itu di mana secara fisik mereka sedang
kecapaian dari 3 hari lamanya perjalanan pulang ke Ziklag. Debaran
jantung yang sedang meluap-luap siap untuk berperang melawan Israel,
diciutkan seketika. Suatu luapan emosional yang tidak menentu akibat
perasaan kehilangan keluarga dan harta milik mereka. Ada perang pula
dalam diri Daud, “Tuhan, Engkau telah memilih aku menjadi raja
Israel, tapi mengapa begitu sulitnya aku menduduki takhta?” Daud
membutuhkan peranan tim pendukung. Namun, kenyataannya para
prajuritnya malah ingin merajam dia dengan batu! Tapi, Daud
menyerahkan diri pada-Nya dan memperoleh kekuatannya dalam Tuhan.

Bagaimana dengan tokoh-tokoh Alkitab lainnya? Ketika Maria
memberitahu Yusuf, ia sedang hamil oleh Roh Kudus, Yusuf malah ingin
menceraikannya secara diam-diam. Dalam Yohanes 9, Yesus menyembuhkan
orang yang buta sejak lahirnya dengan penuh belas kasih. Ketika para
pemimpin Yahudi menyuruh orang tuanya bersaksi atas kesembuhan putra
mereka, dengan ketakutan mereka berkata, “Tanyakanlah sendiri
padanya. Dia sudah cukup dewasa untuk menceritakan hal itu
kepadamu.” Ketika Paulus bermaksud pergi ke Yerusalem, sekelompok
orang mencoba untuk mencegahnya dua kali. Bahkan mereka bersikeras
mengatakan bahwa Roh Kudus telah memerintahkan mereka untuk
memperingatkan Paulus.

Lembaran sejarah memberi gambaran suram. Selama berabad-adad
lamanya, pola-pola di atas tidak berubah. (Bacalah biografi para
misionaris yang ditulis Ruth Tucker dalam Buku “Dari Yerusalem ke
Irian Jaya”.) Anda dapat menghitung hanya dengan jari pada satu
tangan, jumlah orang dengan visi yang dirintisnya mendapatkan
dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Seorang tukang sepatu
berkebangsaan Inggris bernama William Carey, berjuang pada tahun
1790-an bersama tanggung jawab gereja terhadap Misi Agung. Dia
kemudian dikenal sebagai Bapak Misi Modern. Pada awalnya, ketika
visi itu terpatri dalam sanubarinya, ia tidak mendapat dukungan sama
sekali. Sebaliknya, rekan-rekan segerejanya malah dengan kasar
berkata: “Bila Allah ingin membawa orang-orang kafir pada
pertobatan, Ia akan melakukannya tanpa bantuanmu atau pun kami.”
Pada awalnya pun, istrinya menolak untuk ikut serta dalam
pelayanannya ke India. Justru tertundanya tanggal
keberangkatannyalah yang membuat istrinya kemudian memutuskan untuk
menyertainya ke India.

Saat ini, ribuan pekerja lintas budaya bergumul dalam doa, dan
bergulat dengan perihal bagaimana menjadi serdadu-serdadu Kristus
yang siap menanggung salib untuk mengabarkan Kabar Baik bagi orang
lain di seluruh dunia dengan kebudayaan yang berbeda-beda. Dukungan
moral seperti apakah yang mereka terima dari masyarakat?

1. 0rang-orang yang tersesat (Kristen duniawi), pikiran mereka
sempit dan picik, sehingga mereka tidak mendukung orang yang
diurapi Allah. Sebaliknya, malah menyalahkan dan melemparkan
batu-batu tuduhan, seperti yang dilakukan para pengikut Daud.
2. 0rang-orang dininabobokan oleh gemerlapnya dunia sehingga mereka
tidak memiliki kepekaan terhadap rencana Allah bagi saudara dan
teman-teman mereka, sebagaimana diperlihatkan murid-murid Tuhan
Yesus.
3. Orang-orang yang sangat peduli terhadap pendapat umum bersikap
ramah, seolah-olah menyokong semangat sang misionaris. Namun,
secara diam-diam mereka berusaha memutuskan hubungan, seperti
yang dilakukan Yusuf, suami Maria.
3. Orang-orang sangat takut pada program-program gereja, sehingga
mereka tidak mau melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan
petualangan berisiko tinggi ke daerah atau negara yang tidak
mereka kenal. Lagipula, pelayanan misionaris bisa dianggap
sebagai saingan dari status quo, seperti pandangan tua-tua
Yahudi.
4. Orang-orang yang begitu yakin telah “mendengar suara Tuhan”,
bahwa apa yang telah didengar sang misionaris dari Tuhan itu
adalah salah, seperti halnya teman-teman Rasul Paulus.
5. Orang-orang yang ingin melukai hati para misionaris Allah dengan
memberi tafsiran yang salah, seperti halnya pada teman-teman
William Carey.

Batu untuk Membangun atau untuk Melempar?

Beberapa orang tidak dapat menerima ketika mereka mengatakan bahwa
Allah menghendaki dia melakukan perbuatan yang sangat berani, yaitu
pergi ke ladang misi. Umumnya mereka akan bersikap acuh tak acuh,
tidak bersahabat, atau untuk menutupi perasaan mereka yang tertekan,
mereka berkata, “Hei, apakah engkau tidak tahu bahwa di sana adalah
dunia yang buas dan ganas? Selalu terjadi kekacauan dan peperangan.
Engkau bisa terbunuh di sana!” Atau, “Kamu pasti bercanda! Kamu?
Jadi misionaris? Apa sih yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkan
dunia ini?” Kerap kali sahabat terdekat menasihati seperti ini:

1. Kamu sangat dibutuhkan di sini. Kamu dapat menyumbangkan banyak
hal dalam persekutuan kita.
2. Engkau menyia-nyiakan pendidikan yang engkau peroleh dengan susah
payah. Setelah harta dihabiskan untuk membiayai kuliahmu hingga
sarjana, apa kata orang tuamu nanti?
3. Kenapa kamu tidak mencari pekerjaan yang baik? Pergilah, carilah
uang sebanyak mungkin untuk masa depan. Kemudian, barulah kamu
memikirkan untuk terjun ke dalam misi.
4. Apakah tindakanmu itu tidak mengecewakan ibumu? Bagaimana mungkin
kamu begitu tega memisahkan dia dari cucu-cucunya, dan pergi
jauh? Anak-anak itu membutuhkan neneknya juga.
5. Bagaimana dengan pendidikan anak-anakmu nanti? Kasihan, mereka
akan pulang rumah dengan keadaan terabaikan dan mendapat
perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat.
6. Apakah engkau berharap akan bertemu jodohmu di sana? Engkau akan
membujang seumur hidup! Kemudian mereka akan menangis dan
meratap, tanpa memedulikan akal sehatnya, “Aku tak percaya hal
ini terjadi padaku!”

Seorang pekerja lintas budaya yang telah berperang bersama Tuhan
mengatasi segala perasaan ketidakmampuan dan keterbatasan, duduk di
atas ketidakteraturan, seolah-olah berada di atas tumpukan
batu-batu, terpukul berkali-kali, dan terluka. Hanya beberapa orang
yang kuat dan sanggup menanggungnya karena menemukan kekuatannya
dalam Tuhan. Pada saat seperti ini, akan jauh lebih baik jika mereka
mendapatkan Anda sebagai tim pendukung moralnya. Sikap mencari
kepuasan sendiri dan meninabobokan diri sendiri merupakan golongan
paling besar dari gereja masa kini. Sikap tersebut menghasilkan
introspeksi semu yang samar-samar dan rabun. Tampaknya, kita sedang
memusatkan diri pada penyembuhan diri sendiri, supaya dapat memiliki
kehidupan yang lebih baik dan menyenangkan. Akibatnya, doa-doa kita
berbunyi, “Tuhan, senangkanlah aku supaya bisa menikmati hidup yang
mapan,” yang secara langsung bertolak belakang dengan apa yang
dikatakan kepada kita tentang gereja dalam 2 Korintus 1:14. Kita
ingin kehidupan yang mapan dan menyenangkan. Kita menemui kesulitan
karena ketidakpastian hidup seperti Rasul Petrus ketika untuk
pertama kalinya diberitahu Tuhan Yesus tentang penderitaan yang akan
dialami-Nya. Tanpa berpikir, Petrus berkata, “Tidak akan Tuhan ….
Hal itu sekali-sekali tidak akan menimpa Engkau.”

Kekhawatiran-kekhawatiran tentang pendapat umum dapat melukai
seorang misionaris. Barangkali, seorang pekerja lintas budaya
diberitahu seperti ini, “Jika kamu harus pergi, pergilah! Akan
tetapi, jangan buat kekacauan! Jangan libatkan kami di sini,
terutama dalam masalah keuangan. Apa yang akan terjadi dengan
program-program kami yang di sini bila harus mendukungmu?”
Untungnya, sukar bagi gereja untuk mempertahankan sikap tersebut,
sebab organisasi-organisasi misi yang menolong pekerja-pekerja
lintas budaya berkeras melibatkan persekutuan-persekutuan untuk
berinisiatif dalam proses pengembangan misi. Tragisnya, ada ribuan
kasus di mana calon misionaris adalah orang yang tidak tahu-menahu
tentang hal ini. Opini publik di banyak gereja tidak mengizinkan
suatu gerakan radikal dalam penginjilan internasional. Jadi, pekerja
lintas budaya harus pergi secara diam-diam, kecuali Anda berada di
sana, mengucapkan selamat jalan untuk membangkitkan semangatnya,
“Bon voyage!”

Persaingan antarpekerja di dalam Tubuh Kristus cukup menakutkan
beberapa persekutuan sehingga mereka meruntuhkan semangat calon
misionaris. Kata-kata mereka bernada sangat keras, “Kita tidak ingin
kehilangan kamu!” Masalahnya bukan karena orang-orang Yahudi tidak
percaya akan penginjilan ke seluruh dunia. Kristus pernah berkata
kepada mereka, “Sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan
untuk menobatkan satu orang” (Matius 23:15). Mereka juga tidak
menentang penyembuhan yang dilakukan Yesus, bahkan
berbondong-bondong mereka datang dan mengikut Dia. Namun, Yesus
dianggap sebagai saingan karena tidak sesuai dengan bayangan orang
Yahudi tentang Mesias. Demikian pula dengan para misionaris.
Tindakan dan rencana-rencana mereka yang penuh keberanian sering
kali tidak cocok dengan kebanyakan program-program gereja saat ini.
Kecuali Anda yang memberikan dorongan kepada mereka dengan
menceritakan teladan Kristus tersebut.

Bahkan kepedulian teman-teman terdekat dapat meruntuhkan semangat
seorang misionaris ketika mereka memberikan nasihat yang bertolak
belakang dengan rencananya. Rasul Paulus merasakan gerakan dan
ancaman dari Si Seteru pada setiap gerak langkahnya. “Aku akan
tinggal di Efesus hingga hari Pentakosta, karena Allah membuka suatu
pintu yang luar biasa, sekalipun banyak sekali penantangnya”
(1 Korintus 16:8-9). Di Miletus, ia menulis, “Aku ditawan dan dibawa
secara paksa oleh Roh Kudus sekalipun telah diperingatkan kepadaku,
bahwa penjara dan penganiayaan sedang menanti di setiap kota yang
aku kunjungi” (Kisah Para Rasul 20:22-23).

Beberapa hari kemudian, di Tirus, murid-muridnya telah mengatakan
kepada Paulus “melalui Roh Kudus”, bahwa ia tidak boleh pergi ke
Yerusalem, namun Paulus dan teman-temannya meneruskan perjalanan
sampai ke Kaisarea. Di sana, di rumah Filipus, Agabus mengambil ikat
pinggang Paulus. Sambil mengikat tangan dan kakinya sendiri, ia
berkata: “Roh Kudus berkata: Beginilah orang yang empunya ikat
pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem ….”
Mendengar hal itu murid-muridnya meminta supaya Paulus jangan pergi
ke Yerusalem. Bukannya menerima dukungan moral, Paulus malah
menghadapi rintangan. Lukas mengingat jawab Paulus saat itu,
“Mengapa kamu menangis dan menghancurkan hatiku? Aku rela bukan saja
diikat tapi juga mati demi nama Tuhan Yesus.” Paulus tidak mau
menerima nasihat para rasul dan murid-muridnya, sehingga mereka
menyerah dan berkata: “Jadilah kehendak Tuhan!” (Kisah Para Rasul
21:13-14). Akhirnya, “orang yang gagah berani untuk melakukan
pekerjaan Tuhan” ditinggalkan sendirian. Kecuali, Anda ada di sana,
memberikan dukungan moral untuk menopang para misionaris di
masa-masa yang sulit ketika semua orang menentangnya.

Pandangan-pandangan teologi yang disalahtafsirkan dapat merusak
moral pekerja lintas budaya. Hati sang misionaris itu seakan
disayat-sayat sembilu, ketika persekutuannya menyangkal perintah
Allah untuk pergi memberitakan Injil. Bahkan ada yang seenaknya,
seperti yang dialami William Carey, yang berteriak, “Allah dapat
melakukannya sendiri tanpa bantuan kita jika Ia menghendakinya!”
Yang lain dengan lembut mengatakan, “Kita masih terlalu muda dalam
persekutuan. Kita tidak punya apa-apa untuk mendukung misionaris.
Rasanya, kita tidak dapat menambah proyek baru. Kita berusaha
melakukan yang terbaik. Untuk yang lainnya, kita belum siap.”
Alasan-alasan tersebut dan ribuan lainnya telah berulang kali
dikatakan. Belum ada yang dapat bertahan dari alasan-alasan yang
berdalih firman Tuhan dan bersembunyi dari cahaya firman-Nya.
Sesungguhnya, tidak ada firman Allah yang menolak pelayanan
misionaris. Sebaliknya, “Allah tidak menghendaki agar seorang pun
binasa, tetapi supaya datang kepada pertobatan!” (2 Petrus 3:9)

Sebuah kisah menarik tentang seorang pelaut muda yang mengadakan
persiapan untuk berlayar mengelilingi dunia seorang diri dengan
kapal motor buatan sendiri. Banyak orang mengerumuni dia sementara
ia mengepak kotak-kotak perbekalannya. Di antara orang-orang yang
berbisik-bisik, ada yang berkata lantang, “Anakku, kamu tidak akan
sanggup! Kapal motormu tidak akan bertahan melawan gelombang! Kamu
akan kehabisan bahan makanan dan mati terpanggang matahari!” Semua
peringatan-peringatan itu melemahkan semangat dan keyakinannya.
Tidak satu pun yang menawarkan semangat dan optimisme. Namun, ketika
kapal kecil itu bertolak dari dermaga, seorang yang datang terlambat
berlari sampai di ujung dok, melambai-lambaikan tangannya sambil
berteriak memberi semangat, “Selamat berlayar! Bon voyage! Kamu
benar-benar hebat! Kami bersamamu! Kami bangga dengan kamu! Allah
menyertaimu saudaraku!” Tampaknya, dunia menyuguhkan dua macam
dukungan moral: yang pertama mengatakan, “Lihat saja, tunggu sampai
kamu keluar dari dunia yang kejam dan tak mengenal belas kasihan
itu. Biar tahu betapa beratnya!” Atau yang kedua dengan penuh
semangat, menaruh kepercayaan penuh, bersorak mengucapkan selamat
jalan: “Bon voyage!”

Ada selusin cara yang tak terpikirkan untuk meruntuhkan semangat dan
cita misionaris Anda. Tapi sebaliknya, ada banyak jalan untuk
membangkitkan antusiasme dengan dukungan moral yang kuat. Pimpinan
Roh Kudus untuk mencari jiwa-jiwa dalam pelayanan lintas budaya
sangat kita butuhkan di saat-saat tersebut. Ubah dan singkirkan
batu-batu sandungan menjadi batu yang membangun fondasi yang kokoh,
yang akan menjadi dasar yang kuat bagi dukungan pelayanan lintas
budaya dalam gereja Anda. Bagaimana memberikan dukungan moral
seteguh batu karang? Don adalah seorang pendeta yang telah
mendengarkan panggilan Allah untuk menjalani misi. Beberapa kali ia
mengunjungi Thailand dan melihat para pendeta yang haus akan firman
Tuhan. Ia merasakan sukacita dalam memuaskan dahaga rohani mereka
melalui seminar-seminar. Kini Don yakin, Allah telah menuntun dia
untuk menyerahkan dirinya dan memulai suatu pelayanan dalam bentuk
seminar untuk para pendeta pribumi Asia. Ia menyusun berbagai
seminar yang dirancang guna melatih para gembala tersebut dalam
mempelajari firman Allah, supaya mereka dapat menggembalakan
domba-domba-Nya dengan lebih baik.

Namun, Don adalah gembala gereja di Amerika Serikat. Tak mudah
baginya untuk pergi begitu saja. Ia telah mendirikan gereja itu.
Siapa yang akan menggantikan posisinya bila ia berangkat? Bagaimana
ia memindahkan keluarganya ke Thailand, negeri yang tidak mereka
kenal? Bagaimana dengan komunikasi dan doa? Di mana mereka akan
tinggal? Semua pertanyaan dan kekhawatiran ini nyata dan membutuhkan
jawaban. Semua itu lebih mudah diatasi, karena jemaat memberikan
dukungan moral yang penuh kepada Don, untuk menjadi “berkat” bagi
Don, dan bagi mereka juga. Dukungan moral adalah landasan proses
pengutusan. Dukungan moral bisa seperti sorakan, “Selamat jalan!”,
“Bon voyage!” Dukungan yang berasal dari mereka yang melayani
sebagai pengutus (sender), untuk mendukung para misionaris yang akan
berangkat. Para pekerja lintas budaya dapat merasakan dukungan Anda
melalui sikap yang Anda perlihatkan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Melayani sebagai Pengutus: Kiat Jitu Mendukung
Misionaris Profesional
Judul asli buku: Serving as Sender
Judul asli artikel: Dukungan Moral
Penulis: Neal Pirolo
Penerjemah: Tim Om Indonesia
Penerbit: OM Indonesia, Jakarta
Halaman: 19 — 28

______________________________________________________________________
SUMBER MISI

Living Hope Haiti Christian Mission
==> http://livinghopehaiti.com/
Haiti dikenal secara luas sebagai negara termiskin di bagian barat
bumi. Lebih dari 80% populasinya hidup dalam kemiskinan, dan lebih
dari 70% warga negaranya tidak bekerja. PBB bahkan telah menetapkan
Haiti sebagai negara terlapar ketiga di dunia, dengan lebih dari 40%
warga desa yang kekurangan gizi. Atas dasar itulah organisasi ini
dibangun. Mengusung misi untuk menyaksikan Injil Yesus Kristus
kepada masyarakat Haiti bagian Utara melalui pendidikan dan layanan
kesehatan, Living Hope Haiti Christian Mission membangun
pelayanannya untuk membantu mereka yang kekurangan di Haiti dengan
mendirikan sekolah, klinik medis, pelatihan pendeta, program
sponsor, layanan masyarakat, serta sekolah baca tulis untuk orang
dewasa. Kenali setiap aspek pelayanan yang organisasi ini adakan
dengan berkunjung ke alamat di atas.

______________________________________________________________________
DOA BAGI MISI DUNIA

A Z E R B A I J A N
Pendeta Hamid yang berusia 52 tahun menggembalakan jemaat Baptis
berbahasa Georgia di Aliabad, dekat Zakatala, di daerah barat laut
Azerbaijan. Dia mulai ditahan saat polisi menyerbu rumahnya pada
tanggal 20 Juni dan ia ditahan sampai 5 November.

Hamid dituduh memiliki senjata ilegal, yang hukuman penjaranya dapat
mencapai 3 tahun bila terbukti bersalah. Proses peradilannya sejak
tanggal 22 Juli telah menyalahi banyak aturan, dan penahanannya
setelah 21 Oktober adalah ilegal. Hakim memindahkannya dari penjara
ke penjara rumah sambil menunggu keputusan selanjutnya. Hal itu
disambut bahagia jemaat gereja.

Hamid bersikeras bahwa tuduhan terhadap dirinya atas kepemilikan
senjata ilegal adalah palsu. “Polisi datang kembali ke rumah saya
pada Juni dan meletakkan senjatanya di sana,” katanya kepada Forum
18. “Saya melihat senjata itu untuk pertama kalinya ketika mereka
mengklaim telah menemukan senjata itu di rumah saya.” Dia percaya
pada akhirnya dia akan dibebaskan. “Firman Tuhan lebih kuat daripada
sebuah pistol,” katanya kepada Forum 18.

Geraja Baptis di Aliabad sudah lama menghadapi gangguan dari pihak
pemerintah setempat, termasuk penolakan untuk menyetujui surat
registrasi, razia polisi, penyitaan literatur-literatur Kristen, dan
penyangkalan akta kelahiran untuk anak-anak yang diberi orang tuanya
nama Kristen. (t/Novi)
Diterjemahkan dari:
Nama buletin: Body Life, Edisi Desember 2008, Volume 26, No. 12
Nama kolom: World Christian Report
Judul asli artikel: Azerbaijan: Pastor Awaits Trial Under House
Arrest
Penerbit: 120 Fellowship adult class at Lake Avenue Church, Pasadena
Halaman: 3
Pokok doa:
* Berdoa untuk pendeta Hamid yang sedang menjalani penangguhan
penahanan, agar Tuhan menguatkan dan melindunginya. Berdoa juga
agar aparat berwajib setempat tidak bermain curang dengan
memutarbalikkan fakta dalam kasus ini, melainkan mereka dapat
bekerja dengan adil.
* Doakan untuk keluarga dan jemaat Pendeta Hamid, agar mereka tetap
bersehati mendukung dalam doa. Berdoa juga agar Tuhan ikut campur
tangan menyelesaikan kasus yang sedang terjadi.
* Berdoa juga untuk keberadaan orang percaya di Azerbaijan, agar
mereka tetap setia kepada Tuhan meskipun mereka harus menghadapi
berbagai persoalan dan kesulitan karena iman mereka kepada Kristus
dalam kehidupan sehari-hari.

A L G E R I A
Pada 29 Oktober, tiga pemimpin gereja Algeria di Ain Turk, Oran,
yang naik banding atas vonis tanggal 25 Februari, dinyatakan tidak
bersalah dan kasus mereka ditutup.

Vonis yang dikeluarkan adalah 3 tahun penjara dan denda 50.000 dinar
(kira-kira $800). Awalnya, mereka dituduh telah “menghina agama lain
dan nabinya, dan mengancam mantan orang Kristen yang menentangnya”.

Akhirnya, mereka diberitahu bahwa mereka memiliki hak untuk menuntut
orang yang telah menuduh mereka tanpa bukti. Namun, mereka telah
memutuskan untuk memaafkan orang itu dan membalasnya dengan
kebaikan. Diharapkan, akhir seperti itu akan menetapkan sebuah
standar bagi orang-orang Kristen lain yang difitnah, yang masih
menunggu hasil akhir banding mereka. (t/Novi)
Diterjemahkan dari:
Nama buletin: Body Life, Edisi Desember 2008, Volume 26, No. 12
Nama kolom: World Christian Report
Judul asli artikel: Algeria: Acquitte Christians Forgive Accuser
Penerbit: 120 Fellowship adult class at Lake Avenue Church, Pasadena
Halaman: 3 — 4
Pokok doa:
* Mengucap syukur atas telah dibebaskannya tiga pemimpin gereja di
Algeria. Kita percaya bahwa Allah yang kita sembah tidak akan
pernah membiarkan anak-anak-Nya dipermalukan.
* Mengucap syukur juga karena ketiga pemimpin tersebut tidak
menyimpan sakit hati kepada mereka yang telah berupaya
menjebloskan mereka ke penjara, melainkan dapat mengampuni dan
tetap mengasihi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut.
* Berdoa untuk setiap orang percaya di sana yang saat ini masih
menunggu naik banding atas kasus mereka, agar mereka tetap
berpengharapan kepada Tuhan. Berdoa juga agar mereka dapat
mengampuni pihak-pihak yang berusaha menghancurkan hidup mereka
dan tetap menjadikan Yesus sebagai teladan dalam kehidupan mereka.

______________________________________________________________________
DOA BAGI INDONESIA

DAMPAK KRISIS TERHADAP KESEHATAN IBU DAN ANAK

Krisis ekonomi berpotensi memperburuk situasi kesehatan ibu dan
anak, terutama terhadap kesehatan dan asupan gizi ibu hamil, ibu
menyusui, dan anak balita, di mana kekurangan gizi pada ibu dan anak
senantiasa berhubungan dengan gangguan tumbuh kembang anak secara
fisik, intelektual, dan sosial, yang dalam jangka panjang
memengaruhi kualitas masa depan suatu bangsa. Sebagai contoh, krisis
keuangan di Indonesia (1997 — 1998) menyebabkan meningkatnya angka
kematian bayi dan anak balita sebesar 14 persen, anemia anak naik
sebesar 50 — 65 persen, dan 15 — 19 persen pada ibu hamil. Harga
obat dan biaya pelayanan kesehatan melonjak 60 persen, orang sakit
naik sampai 14,6 persen, kasus TB naik 14,6 persen, angka putus
sekolah menengah naik 11 persen. Kalau Krisis keuangan global 2008
tidak diantisipasi, menurut estimasi jurnal kesehatan The Lancet,
35,3 persen dari 55 juta anak usia di bawah 5 tahun di Asia Tenggara
tumbuh kerdil, angka anemia ibu hamil naik 10 — 20 persen, dan bayi
yang lahir dengan berat badan rendah naik 5 — 10 persen.

Sumber: Kompas, Selasa 27 Januari 2009, Halaman 13

POKOK DOA:

1. Berdoa bagi para wanita, terutama dari golongan ekonomi menengah
ke bawah, yang saat ini sedang mengandung atau menyusui anak-anak
mereka. Biarlah Tuhan senantiasa memberikan perlindungan ekstra
kepada mereka di tengah kesulitan ekonomi saat ini, agar mereka
tetap berada dalam kondisi tubuh yang sehat.

2. Biarlah Tuhan terus menggerakkan tangan-tangan terulur untuk
membantu ibu dan anak yang saat ini mengalami kondisi gizi buruk
akibat tidak terpenuhinya asupan pangan dan gizi yang baik bagi
kesehatan mereka.

3. Mengucap syukur atas campur tangan pemerintah dengan memberikan
fasilitas pengobatan gratis kepada korban gizi buruk. Biarlah
Tuhan terus memberikan hikmat kepada pemerintah agar dapat terus
mencari strategi untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan
kepada masyarakat di tengah krisis saat ini.

4. Doakan juga untuk fasilitas dan pelayanan kesehatan bagi orang
yang kurang mampu, agar para pihak pengelola dapat melayani
dengan baik setiap pasien yang datang untuk berobat, serta tidak
mempersulit dengan berbagai macam prosedur-prosedur, melainkan
mengutamakan pelayanan dengan baik.

5. Biarlah anak-anak Tuhan dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan
dalam memberikan dukungan dan bantuan nyata bagi penderita gizi
buruk. Kiranya hal ini dapat menjadi kesaksian yang hidup bagi
mereka yang belum mengenal Kristus.

______________________________________________________________________
Anda diizinkan mengcopy/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-JEMMi
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak
untuk tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan
yang diambil dan nama e-JEMMi sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Staf Redaksi: Novita Yuniarti, Yulia Oeniyati, dan Dian Pradana
Bahan-bahan dalam e-JEMMi disadur dengan izin dari berbagai pihak.
Copyright(c) 2009 oleh e-JEMMi/e-MISI — diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaksi:
Untuk berlangganan:
Untuk berhenti:
Untuk pertanyaan/saran/bahan:
______________________________________________________________________
Situs e-MISI dan e-JEMMi: http://misi.sabda.org/
Arsip e-JEMMi: http://www.sabda.org/publikasi/misi/
Situs YLSA: http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
______________________________________________________________________


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: