Maafkan salahku ibu

23 01 2009

Maafkan Salahku, Ibu…

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan
bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila
kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan
berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau
keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini
izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada
2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di
salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu
mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat
tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur
tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar
monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat
isteri saya. Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat
ibu”.

Saya pun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya?
Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak
meminta izin saya”

Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak
Jamil.”

“Memang harganya berapa dok?” Tanya saya.

Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta
rupiah sekali suntik.”

“Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali
suntik, dok?”

Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak
Jamil.”

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti
satu hari tiga puluh enam juta, Dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di
pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi
mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa
agar penyakit istri saya segera ditemukan.”

“Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami
telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa
kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri
Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi
kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, Ppak.” jawab
dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola
kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya
Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun
mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan
akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau
balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga
Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah
terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku.
Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk.
Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya
Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah
Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam
ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam
keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah
yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu
saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar
SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis
sambil terbata berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil
uangku kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku.
Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang
mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum
alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya
akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri
saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia
miliki itu.”

Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon
rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam
dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya
“Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima
rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil
duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya
tega-teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar
jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di
pipi.

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang
ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat
nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.”
Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya
dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan, pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku
tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku.
Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.”
Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri
percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter,
setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata
“Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah
kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk
mengeluarkan bayi dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya,
sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter,
semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan
berbisik pada diri sendiri “Ibu, I miss you so much.”

Bila anda belum membaca alkitab maka bacalah sekarang karena itulah Firman Tuhan yang Maha Agung


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: