ORANG BAIK MALAH DIBUANG???

24 12 2008

Dalam tulisan saya: “JAHAT KOQ KASIH” saya ada menuliskan bahwa orang baik itu akan dibuang oleh YESUS. Maka orangpun bertanya: “Orang baik koq malah dibuang?” – Aneh sekali kedengarannya.
Yah, di sana saya memang kurang menjelaskan orang baik yang bagaimana yang dibuang itu. Tapi kalau anda sudah membaca tulisan saya selengkapnya, anda pasti tidak kesulitan untuk menangkap maksud saya.
[Catatan: Saya tidak membahas tentang orang baik yang mempunyai pengetahuan tentang ALLAH tetapi menolak/menyangkali keberadaan ALLAH. Sebab yang demikian ini sudah pasti akan dibuang oleh ALLAH. Yang termasuk di sini adalah tokoh-tokoh agama atau siapa saja yang mengaku-aku sebagai nabi tetapi menyesatkan orang. Juga termasuk anda yang membaca tulisan saya. Sebab anda diberi kesempatan untuk mendengar tentang kebenaran yang lebih baik, tetapi anda masih mengeraskan hati. Karena itu apapun kebajikan anda menjadi tidak berarti apa-apa].
Orang baik yang dibuang oleh YESUS adalah orang yang berbuat kebaikan yang tidak dilandasi oleh konsep pemikiran yang benar. Pada permukaannya yang terlihat adalah kebaikan tetapi di dalam pikirannya adalah tipu muslihat, kelicikan-kelicikan, maksud-maksud tertentu, siasat-siasat busuk, dan rekan-rekannya. Inilah orang yang pada pemandangan ALLAH amat memuakkan dan menjijikkan sekali. Meskipun pada pemandangan manusia orang tersebut akan dipuja-puja setengah mati.
Manakala saya memberi anda uang Rp. 1 juta rupiah, pasti anda akan merasa sangat senang, merasa berutang budi, sangat menghormati saya dan mati-matian pasti akan mengatakan bahwa saya ini orang yang paling baik di seluruh dunia. Sebab ayah-ibu anda saja belum pernah memberikan uang sebanyak itu. Begitu pula dengan tetangga, teman maupun sanak famili anda. Anda pasti akan marah besar jika saya ini dikata-katai orang sebagai “orang jahat.” Begitu, bukan?!
Tidak ada orang yang akan berkata bahwa saya ini jahat. Pak polisipun tidak akan menghukum saya oleh sebab saya memberi anda uang sejuta tersebut, bukan?! Orang-orang yang menyaksi-kan pemberian tersebut akan ikut merasa terharu dan senang meskipun mereka tidak ikut saya kasih serupiahpun. Tetangga-tetangga andapun ikut senang dan memuji anda sebagai orang yang beruntung. Lebih-lebih lagi istri dan anak-anak anda. Maka, saya adalah “bak maha dewa” beneran. Ulama-ulama anda atau pendeta-pendeta anda pasti akan mengkhotbahkan peristiwa tersebut. “Contohlah pak Rudy, orang kaya yang tidak pelit. Setiap ketemu orang pasti diberinya uang sejuta.” – Ya, nggak?! Dan orangpun pasti akan mengusulkan agar saya bisa mendapatkan hadiah Nobel, atau masuk pencatatan Guiness Book of Records, atau Indonesianya: MURI[Musium rekor Indonesia]. Hebat, ya?!
Tapi, apa yang sebenarnya ada di dalam batok kepala saya?
Anda adalah “alat” yang saya pergunakan untuk popularitas saya. Itulah tujuan saya yang sebenarnya. Saya bukannya berniat menolong anda, melainkan justru menjadikan anda sebagai “permainan” hati saya.
Nah, adakah akal budi yang macam begini ini menyenangkan hati TUHAN?! Memuakkan sekali!
Agama-agama non Samawi, mengajarkan tentang “belas kasihan.” Macam apakah itu?
Konsep “belas kasihan” adalah membedakan derajat orang; kuat-lemah, atau kaya-miskin. Di sini ada pengakuan tentang “keadaan” orangnya. Orang yang kaya/kuat mendapatkan pengakuan akan kekayaan/kekuatannya, sedangkan orang yang miskin/lemah mendapatkan pengakuan akan kemiskinan/kelemahannya. Apa yang mata lihat itulah yang dijadikan ukuran nya. Kekayaan/kekuatan dan kemiskinan/kelemahan adalah hasil perbuatan/usaha kita sendiri. Tidak ada campur tangan TUHAN-nya; sebab mereka memang tidak mengakui adanya TUHAN.
Jadi, ketika seorang kaya memberikan sesuatu kepada orang yang miskin, itu diilustrasikan sebagai “kentut.” Bahwa kalau kita makan, pasti akan keluar “kentut”-nya. Kalau motor, minumnya bensin, keluarnya asap! Atau istilah kerennya adalah: “Tahi.” Itulah “welas asih” sebagaimana yang diajarkan oleh dewi Kwam Iem. Bahwa orang miskin itu wajib ditolong oleh orang yang kaya. Berbeda dengan ajaran Kristen; Orang miskin itu wajib dihargakan yang sama dan sejajar dengan dirinya sendiri. Sebab harta benda yang kita miliki hanyalah titipan ALLAH.
Ketika seorang wanita mantan pelacur mengeluarkan tabungannya untuk dibelikan minyak Narwastu yang mahal harganya untuk meminyaki YESUS, maka orang-orang Yahudipun berpikir bahwa itu adalah suatu pemborosan. Lebih baik uang itu dibagi-bagikan kepada orang miskin daripada untuk meminyaki YESUS. Tetapi YESUS berkata:
Matius 26:11: “Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu
bersama-sama kamu.”

“Orang-orang miskin selalu ada padamu.” Artinya bahwa orang-orang miskin itu adalah menjadi urusan dari kita[orang-orang kaya]. Orang miskin itu bukan urusannya ALLAH, tetapi urusannya kita. Menyatakan bahwa orang-orang kaya itu hanyalah “kasir” atau “bendahara” saja. Bukan pemilik yang sebenarnya [Boss]. Karena itu jika ada orang kaya yang pelit, di mata ALLAH, dia adalah pencuri/perampok/bendahara yang tidak jujur.
Sementara itu, Islam mengajarkan tentang “pahala.” Macam apakah itu?
Itu adalah semacam transaksi bisnis dengan allah. “Ya, allah, orang miskin ini saya kasih uang, tapi nanti bayarlah dengan berbunga.” Sama seperti anak kecil yang dilatih melakukan sesuatu dengan iming-iming diberi hadiah. “Belajarlah yang rajin. Nanti kalau nilaimu baik, ayah belikan kamu mobil-mobilan.”
Nah, manakala seseorang memberikan sesuatu kepada orang yang lainnya, maka yang muncul di benaknya adalah: “Duit…….duit….dan ………….duit.” Sama sekali orang yang ada di hadapannya itu hilang! Bukan manusia yang terbayang di hadapannya, melainkan uang! Pemberiannya adalah suatu investasi! Adakah yang demikian itu suatu ajaran yang tinggi?

Yang menjadi tekanan dalam ajaran Islam adalah hubungan kita dengan allahnya, sebagai yang utama. Seolah-olah allahnya si Mamad itu makanannya adalah dari sembah sujud kita. Kalau nggak kita sujudi, allahnya akan mati. Tetapi Kristen mengajarkan agar yang terutama adalah hubungan antar sesamanya. Ini harus beres duluan, baru meningkat ke hubungan dengan ALLAH-nya.
Kaget dengan pernyataan saya di atas?! Saya tahu orang-orang Kristen matanya melotot; protes dengan pernyataan saya tersebut. Sebab mereka ingat akan bunyi hukum yang pertama dan yang terutama yang Alkitab ajarkan. Karena itu mari kita pelajari baik-baik hukum tersebut.

> Matius 22:37-40: “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua,
yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan
kitab para nabi.”

Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa yang pertama dan yang terutama adalah kasih terhadap ALLAH, baru setelah itu kasih terhadap sesama. Nah, sekarang saya mau tanya kepada anda: Atas dasar kalimat tersebut, maka manakah yang pertama-tama dan manakah yang nomor dua? Manakah hukum yang lebih tinggi dan manakah yang lebih rendah? Manakah yang menjadi dasar dan manakah yang menjadi bangunannya?
Anda semua pasti akan menjawab: “Kasih kepada ALLAH-lah yang prioritas.” Tetapi saya justru akan menjawab yang sebaliknya: “Kasih kepada sesama adalah yang terutamanya, baru kasih kepada ALLAH yang nomor duanya.” Koq bisa?
Tinggi manakah antara Sekolah Dasar dengan Perguruan Tinggi? Pasti anda setuju untuk berkata: “Perguruan Tinggi” lah sebagai yang tertinggi. Tapi manakah yang harus anda lalui lebih dahulu? Bukankah Sekolah Dasar dulu baru ke Perguruan Tinggi?! Perguruan Tinggi adalah sasaran bidik kita, atau cita-cita kita. Tapi Sekolah dasar adalah jalan yang harus dilalui lebih dahulu, bukan?!
Begitu pula dengan kasih kepada ALLAH adalah sasaran bidik kita. Tapi kasih kepada sesama adalah sarana berlatih kita. Yang kedua menjadi pondasi bagi yang pertama. Sebab, mana mungkin kita hendak mengasihi ALLAH yang tidak kelihatan, sementara sesama yang kelihatan saja gagal untuk kita kasihi?! Itu adalah pernyataannya orang munafik!
Saudara kita ini nyata-nyata miskin, tapi tidak kita beri. Bagaimana ALLAH yang kita katakan Mahakaya hendak kita beri? Mustahil sekali, bukan?!
> 1Yohanes 4:20: “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci
saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi
saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak
dilihatnya.”

> Yesaya 58:3-7: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga?
Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya
juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus
urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu
berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan
tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu
tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang
Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau
menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan
abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan
berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? Bukan! Berpuasa
yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu
kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang
yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah
rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang
tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau
memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu
sendiri!”
> Matius 5:23-24: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah
dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap
engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah
berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan
persembahanmu itu.”

Anda lihat di sini; ALLAH menolak perbaktian kita bilamana kita belum beres
urusan/kewajiban kita terhadap sesama?!

> Lukas 18:10-14: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah
Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa
dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena
aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang
lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku
berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala
penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak
berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya
Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini
pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu
tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan
barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Dalam perumpamaan di atas kita melihat bahwa orang Farisi itu adalah seorang yang baik dan sholeh, sementara pemungut cukai itu digambarkan sebagai seorang berdosa. Dan YESUS dengan jelas membenarkan orang yang berdosa itu daripada orang yang baik itu. Bagaimana ini? Di mana letak kesalahan orang yang baik itu dan di mana letak kebenaran orang yang berdosa itu?
> Jelas sekali bahwa orang Farisi itu telah salah kamar. Seharusnya dia masuk ke kamar hotel
tapi dia masuk ke rumah sakit. Kalau orang sehat ya jangan pergi ke dokter! Kalau sudah
pinter, sudah punya ijasah sarjana, ya pergilah mencari pekerjaan, jangan pergi bersekolah
lagi!
> Kalau sudah sembuh dari sakitnya atau sudah merasa bertobat dari kejahatannya, ya nggak
perlu tetap tinggal di rumah sakit lagi. Sebab dokter hanya diperlukan selama seseorang
masih berkeadaan sakit saja. Masih dalam proses perawatan.
Nah, YESUS menyatakan bahwa diriNYA adalah dokter. Karena itu pasienNYA sudah pasti
orang-orang yang masih sedang sakit. Dan menurut pikiran YESUS, di dunia ini tidak ada
seorangpun yang sehat. Sampai ajal menjemputpun seseorang masih tetap dalam keadaan
sakit[berdosa]. Dan tidak akan pernah ada seorang manusiapun yang bisa layak masuk ke
sorga. Jangankan kelas orang awam. Kelas nabi besarpun tidak mungkin bisa masuk ke
sorga! Kecuali oleh pertolongan YESUS!
Setiap orang yang diselamatkan adalah orang-orang yang berdosa tetapi “dianggap” tidak
berdosa. Orang tidak sempurna tetapi “dianggap” sempurna. Suatu dosa yang ditutup-tutupi,
tetapi bukan kita yang menutupinya, melainkan KRISTUS. Kalau kita yang menutupi dosa
kita sendiri itulah yang dinamakan sebagai “perasaan diri sendiri.”
Itulah yang digambarkan dalam diri orang Farisi itu. Bahwa orang Farisi itu berpikir dengan
modal perasaannya sendiri. Suatu ke-ta’kabur-an untuk memakai standart pikirannya sendiri.
> Orang Farisi itu menyatakan bahwa kebajikan-kebajikannya itu sebagai jerih-payahnya
sendiri. Tidak memandang sedikitpun pengajaran-pengajaran dari ALLAH; bahwa ALLAH
adalah GURU kita, jika kita ini orang yang baik. Melupakan jasa-jasa ALLAH!
> Menganggap bahwa masuk ke sorga itu sebagai pertandingan atau perlombaan lari, sehingga
siapa yang cepat larinya dia yang juara. Bukan sebagai kasih karunia ALLAH! Dengan
demikian dia telah melangkahi kewenangan ALLAH selaku Pemilik sorga, yang memiliki
kebebasan untuk menerima seseorang maupun menolak seseorang. Bahwa sorga itu
diberikan berdasarkan belas kasihan ALLAH, bukan berdasarkan kepandaian kita. Karena
itu kita ini harus dengan kerendahan hati terhadap ALLAH. Penuh dengan permohonan,
bukannya penuh dengan kesombongannya.
Sama seperti kalau kita melamar pekerjaan; mana yang lebih kuat pengaruhnya antara ijasah
atau koneksi? Jelas, koneksilah yang lebih kuat! Ijasah bisa dengan mudah dikalahkan oleh
system koneksi. Bahwa Boss memiliki kuasa untuk memasang seorang tukang sapu menjadi
direktur. Itu suka-suka seorang Boss!

Jadi, memang benar bahwa YESUS adalah JALAN, dan KEBENARAN dan HIDUP! Memang benar bahwa setiap orang yang tidak melalui diriNYA tidak bisa diselamatkan. Tapi itu tidak berarti bahwa hanya orang-orang yang beragama Kristen saja yang bisa diselamatkan! Orang-orang Islam, Hindu, Budha atau Atheispun masih mempunyai peluang untuk selamat tanpa mengenal YESUS, asalkan kehidupan terhadap sesamanya beres, atau benar! Bahkan bisa jadi orang-orang Kristen sendiri yang tertendang ke luar! – Inilah konsep dari mendahulukan hukum kasih terhadap sesama sebagai hukum yang pertama dan yang terutama. Inilah Sekolah Dasarnya!
Mengapa demikian?
Sebab orang-orang yang demikian ini adalah orang-orang yang nantinya lebih mudah diajar ke tingkatan yang lebih tinggi lagi. Orang-orang ini nantinya akan bisa lebih setia dan lebih mengasihi ALLAH dari pada orang-orang berlatar belakang Kristen tapi yang konsep berpikirnya sudah rusak!
Contoh Alkitabnya; Janda di Sarfat dipertemukan dengan nabi Elia oleh sebab kemurahan hatinya. Perwira kafir Naaman dipertemukan dengan nabi Elisa. Perwira Roma; Kornelius dipertemukan dengan Petrus karena kedermawanannya terhadap orang-orang Yahudi. Dorkas, dipertemukan dengan Paulus juga karena kedermawanannya.
Tidakkah itu mengabaikan diri YESUS?
Justru itulah yang memuliakan YESUS! Sebab pribadi YESUS adalah pribadi pengajaran! YESUS itu bukan tentang tubuhNYA saja, tapi tentang apa yang hendak disampaikanNYA, itulah yang terpenting! Ajaran YESUS itu lebih penting daripada tubuh YESUS sendiri! Sebab ajaran itu otakNYA YESUS, akal budiNYA YESUS, hakekatNYA YESUS!
Percuma kita memegang tubuhNYA YESUS, tetapi ajaranNYA tidak kita kerjakan. Justru lebih benar kita tidak memegang tubuhNYA, tetapi ajaranNYA kita laksanakan.
> Roma 2: 13-15: “Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di
hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan
dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat
oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat,
maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi
hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka
menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka
dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh
atau saling membela.”
Sekarang gantilah perkataan “hukum Taurat” itu dengan “hukum YESUS.”

“Karena bukanlah orang yang mendengar hukum YESUS yang benar di
hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum YESUSlah yang akan
dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum YESUS
oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum YESUS,
maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum YESUS, mereka menjadi
hukum YESUS bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka
menunjukkan, bahwa isi hukum YESUS ada tertulis di dalam hati mereka
dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh
atau saling membela.”

Kalau begitu nggak guna menjadi orang Kristen?
Siapa yang bilang begitu?! Bukankah di depan telah saya katakan bahwa YESUS adalah JALAN, dan KEBENARAN, dan HIDUP? Bahwa yang tidak melalui YESUS tidak bisa selamat? Apa artinya semua itu?
Artinya adalah sebagai orang-orang Kristen kita harus lebih pandai melakukan kehendak YESUS, daripada mereka yang bukan Kristen! Sebab kita ini diajar secara langsung oleh YESUS. Kita ini sudah sangat dekat dengan YESUS. Sudah sangat dekat dengan keselamatan! Seumpama bus, kita sudah sangat dekat dengan terminal tujuan. Tinggal 5 kilometer lagi kita sudah akan sampai ke sana. Karena itu kita harus semakin hati-hati, jangan sampai perjalanan yang tinggal sesaat lagi itu mengalami kecelakaan, sehingga menjadi tersalip oleh bus yang ada di belakang kita.
Jadi, menjadi orang Kristen itu merupakan suatu tuntutan untuk memperoleh keselamatan yang dijanjikan KRISTUS itu. Itu harus menjadi pencapaian setiap orang yang ingin selamat. Sebab Kekristenan itu merupakan “kupon” yang siap ditukarkan dengan hadiahnya. Hanya, jangan sampai kupon yang menjadi hak kita itu jatuh lalu ditemukan oleh orang lain yang tidak berhak! Itu saja masalahnya!
Jangan sampai “yang terdahulu akan menjadi yang terkemudian, sedangkan yang terkemudian menjadi yang terdahulu.” Jangan sampai “yang anak-anak ALLAH dianggap bukan anak-anak ALLAH, sementara yang bukan anak-anak ALLAH akan disebut anak-anak ALLAH.”
Jangan sampai “seorang yang bersekolah menyanyi” dikalahkan oleh “orang-orang yang berbakat menyanyi.” – Jerih lelah kamu bersekolah akan menjadi sia-sia, bukan?!

Ada lagi firman: “Jikalau kamu mengasihi AKU, kamu akan menuruti perintahKU.”
Nah, manakah yang dipentingkan dalam kalimat tersebut? Yang mengasihi ataukah yang menuruti perintah? Seharusnya yang mengaku mengasihi YESUS secara otomatis akan menuruti perintahNYA. Tapi kasih kepada YESUS itu bila perlu akan diabaikan jika ada orang yang bisa melakukan apa yang YESUS kehendaki. Sebab tuntutan kasih itu hanyalah dimaksudkan sebagai “pengikat” saja, agar kita ini lebih mudah melaksanakan kehendakNYA. Bukan kasihnya yang penting, melainkan rencana-rencana ALLAH-lah yang terlebih penting!

Kalimat yang lebih menjurus lagi yang seperti apa?
Kalau ada sekolahannya, ngapain kita ini belajar sendiri? Kalau ada bus ngapain harus jalan kaki? Kalau ada jalan tembus ngapain harus memutar? Kalau kita berkesempatan mendengar tentang lembaga penyelamatan yang ALLAH dirikan, ngapain kita berlaku seolah-olah ALLAH tidak mempunyai lembaga penyelamatan? Kalau kita berkesempatan mengetahui bahwa Pemerintah Daerah kita memiliki unit Pemadam Kebakaran, ngapain kita harus memadamkan kebakaran dengan ember? Itu saja masalahnya!
Jadi, saya nggak pernah lho memutlakkan bahwa keselamatan itu harus melalui YESUS! Yang mutlak adalah YESUS itu JURUSELAMAT! YESUS itu JURUSELAMAT adalah mutlak! YESUS adalah JALAN, dan KEBENARAN, dan HIDUP adalah mutlak! Itu semua adalah fakta yang sudah saya buktikan baik melalui Alkitab maupun Al Qur’an. Tapi tentang orang yang diselamatkan, tidak mutlak harus mengenal YESUS!
Bukalah file-file saya, karena sudah sering kali saya bahas itu. Bahwa ini bukanlah pernyataan saya yang baru, sehingga anda anggap saya ini muter-muter lidah.
Tapi satu hal adalah, nyaris mustahil kita ini diselamatkan tanpa melalui “pintu” YESUS!
> Jika ada orang Islam, atau Hindu atau Budha atau Atheis yang selamat, itu bukan karena
mereka itu agamanya Islam atau Hindu atau Budha. Sebab ajaran Islam, Hindu, Budha dan
Atheis yang jelas sangat bertentangan dengan ajaran YESUS. Tidak ada kebenarannya di
dalam ajaran-ajaran itu. Semua itu hanya bikinannya manusia dan dengan kuasa Setan.
Kuasa Setanlah yang membuat agama-agama itu bisa menjadi agama yang besar. Bukan
kuasa ALLAH! Tapi orang-orang itu bisa selamat karena jiwanya selaras dengan kehendak
YESUS, meskipun agama mereka adalah Islam atau Hindu atau Budha!
Contoh: Kalau ada laki-laki Muslim yang istrinya cuma satu, maka dia itu bukanlah Muslim
sejati. Sebab teladan nabi dan standart kebenaran atau kemuliaannya adalah
poligami. Kehidupan nabi adalah teladan yang harus diikuti umatnya. Maka siapa
yang mengatakan bahwa poligami itu tidak baik, maka dia itu sedang berdiri
mengecam nabinya sendiri.
Demikian juga dengan wanita-wanita Muslim yang nggak mau dimadu[poligami],
mereka ini juga penentang-penentang nabinya sendiri. Sebab poligami adalah “trade
mark”-nya Islam. Islam kurang indah kalau tanpa poligami!
Lebih buruk lagi kalau sampai ada laki-laki Muslim yang suka melacur! Wong
agamanya sudah mengijinkan kawin lagi koq ya masih melacur. Wong minta aja
dikasih ngapain sampai mencuri? Berbeda dengan Kristen; karena agamanya
melarang poligami atau melacur, maka masih pantas jika mereka itu mencuri-curi.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
SUSTER THERESIA ITU PALSU

Sepuluh tahunan yang lalu saya pernah berkata kepada orang-orang Advent: “Seorang Katolik saja sudah cukup untuk menenggelamkan kita semua.” Itu dulu!
Tapi beberapa hari ini ROH menyorot pada kata-kata: “Suster”-nya. Bahwa Theresia itu seorang suster, bukan seorang biasa! Maksudnya?
Seorang suster itu seorang biarawati yang terikat. Bukan orang merdeka. Secara finansial, mereka hidup dari gaji yang pas-pasan. Bahkan boleh disebut sangat memprihatinkan sekali. Mereka hanya dijamin oleh lembaganya dengan makanan dan pakaian kesusterannya saja. Mereka didisiplin sedemikian rupa untuk hidup sangat-sangat irit, sangat-sangat sederhana dengan alasan menjalankan ritual keagamaannya. Sering diwajibkan berpuasa. Karena itu mana ada suster yang gemuk dan berwajah ceria? Umumnya ekspresi mereka menggambarkan suatu kehidupan yang sangat tertekan sekali. Suatu kehidupan yang terpenjarakan.
Jadi, secara finansial sangat tidak memungkinkan bagi seorang suster untuk berbagi dengan orang yang lainnya. Sementara, setiap gerak kebajikan rasanya tidak mungkin jika tanpa bumbu material sedikitpun.
Bayangkan, untuk suatu jarak yang nggak mungkin ditempuh dengan berjalan kaki, melainkan harus menggunakan sarana transportasi. Yang jelas, semakin jauh jarak tempuhnya semakin mahal perongkosannya. Ini tidak mungkin bisa diatasi dengan gaji seorang suster. Kecuali kalau sekali-sekali masih mungkin. Tapi kalau sudah menjadi suatu kegiatan yang rutin? Bagai mana pula jika menghadapi keluhan-keluhan perekonomian, mengingat yang menjadi sasaran pelayanan sosialnya adalah masyarakat miskin? Bagaimana untuk keperluan membelikan obat-obatan dan lain-lainnya?
Anda nggak akan pernah menemukan seorang suster yang keluyuran di jalan-jalan kayak pegawai negeri yang suka nongkrong di Mall-mall. Sebab jadwal kegiatan ibadah suster itu sudah diatur sedemikian rupa untuk benar-benar menikmati istirahatnya hanya di saat tidur saja. Jikapun harus ke luar, itu hanya untuk keperluan belanja biaranya saja. Yaitu belanja ke pasar.
Suster itu juga didoktrin untuk tidak bisa bergaul dengan sembarangan orang saja. Mereka adalah sekelompok orang yang terisolir[mengisolir diri]. Sebab terlalu banyak “seluk-beluk” Romanism yang harus mereka misteriuskan, yang tidak boleh bocor ke masyarakat. Lebih-lebih oleh banyaknya skandal-skandal seks di internal mereka. Vatikan pasti sangat berhati-hati sekali dalam masalah komunikasi sosial mereka.
Karena itu cukup mengagetkan jika ada seorang suster Theresia yang bisa sedemikian merdekanya untuk belusukan di kampung-kampung di kota Calcutta-India. Sementara Vatikan mempunyai kebutuhan untuk “menebus” nama baiknya di masa lampau.
Maka itu, jika kebajikan suster Theresia ini bisa mencapai meja lembaga Nobel yang bertaraf internasional, menyatakan bahwa skala kebajikannya itu berukuran besar-besaran. Bukan seorang yang bekerja sosial di sebuah kampung berkelas RT saja, melainkan sudah meliputi setidaknya sebuah Kota. Dan ini berarti tentang biaya operasional yang besar serta tentang kebebasan waktu. Sudah bukan “suster” lagi karena sudah tidak berada di dalam biara lagi sehari-hariannya. Kecuali dia seorang Misionaris Vatikan yang diberi tugas khusus untuk pelayanan kemanusiaan. Dan itu berarti dia seorang pegawai sosial, bukan tentang pribadi yang baik! Sama kayak pegawai Kantor Pos yang membagi-bagikan uang Bantuan Langsung Tunai untuk fakir miskin. Itu pekerja sosial bukan pribadi sosial!


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: