BUAT: KEKASIH-KEKASIH TUHAN JESUS

24 12 2008

KUUCAPKAN: SELAMAT NATAL 2008 & TAHUN BARU 2009 Damai-Nya tinggal di hati kita di hari natal ini, dan menyambut tahun baru dengan sikap optimis bahwa kasih dan kuasa Tuhan Jesus tidak berubah dalam hidup kita. Maranatha! pdt yahya mulyono KESAKSIAN NATAL

BATU BARA YANG BANYAK SEKALI

Di malam Natal tahun 1948, salju turun terus-menerus, berputar dan
bergerak di sekeliling truk pembuangan sampah saya yang sudah tua
saat saya menyetir menuju Gunung West Virginia. Salju sudah turun
berjam-jam dan kedalamannya telah mencapai 20 hingga 25 cm. Tugas
saya saat itu adalah mengantarkan batu bara untuk para penambang
yang tinggal di perkampungan batu bara. Saya selesai lebih cepat
dari waktu yang seharusnya dan sedang dalam perjalanan pulang.

Saat saya berjalan ke arah rumah, ayah tiri saya melambaikan tangan.
Ia memberitahukan saya ada seorang ibu dengan tiga anaknya yang
tinggal kira-kira 10 kilometer ke arah pegunungan. Suami ibu
tersebut meninggal beberapa bulan yang lalu — meninggalkan istri
dan anaknya dalam keadaan melarat. Sesuai kebiasaan penduduk
setempat yang saling menjaga satu sama lain, para penambang telah
mengumpulkan beberapa kotak makanan kering, pakaian, dan
hadiah-hadiah yang mereka minta agar saya antarkan bersama batu bara
dalam jumlah besar untuk keluarga tersebut.

Percayalah, saya sebenarnya tidak ingin pergi. Terus terang saja,
saya sudah bekerja keras sepanjang hari ini, sedangkan sekarang
malam Natal dan saya ingin pulang untuk berkumpul bersama keluarga
saya. Tetapi begitulah — karena sekarang malam Natal, saatnya untuk
memberi dan berbuat baik. Dengan pemikiran seperti itu, saya memutar
truk dan menyetir menuju alat pengisi batu bara untuk mengisi truk.
Saat kembali, jok depan serta seluruh sudut dan celah truk, saya
penuhi dengan kotak-kotak. Akhirnya saya siap berangkat.

Di bukit West Virginia, masyarakat setempat membangun rumah di
lokasi-lokasi yang cukup sulit dijangkau. Nah, rumah ibu ini sungguh
sulit dijangkau. Saya harus menelusuri jalanan yang tak pernah
didatangi departeman perhubungan, bahkan penunjuk arah pun tidak
ada. Saya menyetir menuju bukit seperti telah mendapat penunjuk arah
dan berbalik keluar dari jalan menuju lembah yang bernama Lick Fork.
“Jalanan” itu sebebarnya sungai kecil yang diselimuti salju. Ketika
saya melihatnya, saya mulai ragu-ragu apakah bisa melalui jalan
tersebut. Meskipun demikian, saya memasukkan persneling gigi satu
dan melaju.

Ketika saya sampai 1,6 kilometer lebih jauh dari tempat yang
seharusnya saya putari untuk menuju gunung — rumah ibu tersebut —
semangat saya runtuh. Di depan saya, jalan kecil yang berkelok yang
menghubungkan sisi gunung telah terputus. Saya masih belum bisa
melihat di mana rumah ibu itu. Saya memundurkan mobil dan berbalik
ke arah sebelumnya. Setelah memerhatikan situasi, saya menyadari
tidak ada jalan lain bagi saya untuk membawa truk seberat 2 ton
melalui jalur ini.

“Apa yang harus saya lakukan?” pikir saya. Mungkin lebih baik saya
menaruh batu bara di sini dan meminta keluarga ibu itu datang ke
sini mengambil makanan dan pakainan ini. Jadi saya keluar dan
berjalan menyusuri jalan kecil tersebut. Hari menjelang malam, suhu
terus menurun, dan salju melayang menimbuni jalanan.

Lebar jalan kecil itu kira-kira dua meter, di sisi jalan
ranting-ranting ditutupi salju dan dipenuhi dahan dan kayu pohon.
Akhirnya saya bisa melihat dengan jelas di mana letak rumah yang
dicari — pondok kecil dengan dinding yang tipis dan retak. Saya
berteriak memanggil ibu itu agar keluar dari rumah, menjelaskan
mengapa saya ada di sana, dan menanyakan apakah ia tahu cara untuk
membawa makanan dan batu bara. Ia menunjukkan ke arah sebuah kereta
dorong buatan beroda satu.

Di sinilah saya, kaki saya terbenam di salju setinggi 25 cm dengan
sebuah truk yang sudah harus saya kosongkan muatannya sebelum hari
gelap, di jalan kecil yang tidak bisa dilewati, dan sebuah kereta
dorong beroda satu. Satu-satunya solusi yang bisa saya lakukan
adalah memutar truk, memundurkannya sedemikian rupa agar saya bisa
menurunkan batu bara dan kotak-kotak hadiah keluar.

Saat saya kembali ke dalam truk, saya terus bertanya-tanya, “Tuhan,
apa yang sedang saya lakukan di sini?”

Saya menyalakan mesin, memutar truk tua saya, dan menyetir mundur.
Truk tua saya mundur perlahan menyusuri jalan kecil tadi. Saya terus
berkata pada diri sendiri, “Aku akan terus berjalan sampai
benar-benar tidak bisa bergerak lagi.”

Namun, truk saya seperti memiliki pemikiran sendiri. Tiba-tiba saat
saya duduk di tengah kegelapan dengan nyala lampu belakang di tengah
salju, terlihat pondok kecil. Saya tercengang. Truk tua saya sama
sekali tidak tergelincir satu sentimeter pun atau terperosok ke
dalam salju. Dan, berdiri di depan beranda, di hadapan empat orang
paling bahagia yang pernah saya lihat.

Saya memindahkan semua kotak dan mengeluarkan batu bara, menyekop
batu bara sebanyak yang bisa ke beranda pondok yang melengkung.
Setelah saya selesai, ibu tersebut menggenggam erat tangan saya
sambil terus-menerus mengucapkan terima kasih.

Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan, saya masuk ke dalam truk
dan berjalan kembali. Kegelapan mungkin menguasai saya. Namun,
setelah mencapai jalan besar, saya menghentikan truk dan melihat ke
belakang, ke arah jalan kecil tadi. “Tidak mungkin,” ujar saya
kepada diri sendiri, “saya bisa memutar balik truk ini menuju
gunung, melalui salju tebal, di tengah kegelapan, tanpa bantuan
seorang pun.”

Saya dibesarkan oleh orang tua saya untuk selalu memuji Tuhan. Saya
juga percaya dengan kelahiran Anak Allah. Dan di malam Natal itu, di
bukit West Virginia, saya tahu saya telah menjadi alat Allah untuk
memberi arti Natal yang sebenarnya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Guideposts bagi Jiwa: Kisah-Kisah Iman Natal
Judul asli buku: Guideposts for The Spirit: Christmas Stories of
Faith
Penulis: H. N. Cook
Penerjemah: Mary N. Rondonuwu
Penerbit: Gospel Press, Batam 2006
Halaman: 294 — 299

__._,_.___


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: