TOUCHING STORY FROM ITALY

26 09 2008

Dibalik cerita Pedonor sumsum tulang belakang dan pelaku pemerkosaan.

Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa

17 Mei

1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota, tak tahu aku bener

engga nulisnya), seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang

kulit hitam.

Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan

berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung tanggung

jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya,sang bayi kini menderita

leukemia (kanker darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang

belakang segera.

Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya.

Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia

menghubungi Dr.

Adely di RS Elisabeth . Berita pencarian orang ini membuat seluruh

masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya.

Masalahnya adalah apakah

orang hitam ini berani muncul. Padahal jelas ia akan menghadapi

kesulitan besar, Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah

hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri.

Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang

tak terampuni. Kisah ini akan berakhir bagaimanakah ? Seorang anak

perempuan yang menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang

memalukan di suatu perkampungan Itali.

Martha, 35 thn, adalah wanita yang menjadi pembicaraan semua orang. Ia

dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua

anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik

perhatian setiaporang disekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya

tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan

kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan

seperti ini.

Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami

demam tinggi. Terakhir, Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia.

Harapan satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang

yang paling cocok untuknya. Dokter menjelaskan lebih lanjut.

Diantara mereka yang ada

hubungan darah dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk

menemukan pedonor tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian

berkumpul untuk menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.

Raut wajah Martha

berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani pemeriksaan.

Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu mereka, dalam

kasus seperti Monika ini, mencari pedonor yang cocok sangatlah kecil

kemungkinannya.

Sekarang hanya ada satu cara yang paling manjur, yaitu Martha dan

suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan darah anak

untuk Monika.

Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata tanpa

suara Tuhan..kenapa menjadi begini ? Ia menatap suaminya, sinar

matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa. Peterson mengerutkan

keningnya berpikir.

Dr. Adely berusaha menjelaskan pada mereka, saat ini banyak orang yang

menggunakan cara ini untuk menolong nyawa para penderita leukimia,

lagi pula cara ini terhadap bayi yang baru dilahirkan sama sekali tak

ada pengaruhnya.

Hal ini hanya didengarkan oleh pasangan suami istri tersebut, dan

termenung begitu lama. Terakhir mereka hanya berkata, Biarkan kami

memikirkannya kembali.

Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang

kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut.

Martha menggigit bibirnya

keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata serius

pada dokter. Kami ada suatu hal yang perlu memberitahumu.

Tapi harap Anda

berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan rahasia

kami suami-istri selama beberapa tahun. Dr. Adely menganggukkan

kepalanya. Lalu mereka menceritakan Itu adalah 10 tahun lalu, dimana

Martha ketika pulang kerja telah diperkosa seorang remaja berkulit

hitam.

Saat Martha sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu

telah menunjukkan pukul 1 malam. Waktu itu aku bagaikan gila keluar

rumah mencari orang hitam itu untuk membuat perhitungan. Tapi telah

tak ada bayangan orang satupun. Malam itu kami hanya dapat memeluk

kepala masing-masing menahan kepedihan. Sepertinya seluruh langit

runtuh.

Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan

kembali . Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami

merasa sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan

milik orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya,

tapi aku masih mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang

dikandungnya adalah bayi kami.

Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan.

Maret 1993, Martha

melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam.

Kami begitu putus asa,

pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tapi

mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi

bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah

nyawa.

Aku dan Martha

merupakan warga Kristen yang taat, pada akhirnya kami memutuskan untuk

memeliharanya, dan memberinya nama Monika.

Mata Dr. Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami

kenapa bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak

merupakan hal yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil

mengangguk-anggukka n kepala berkata Memang jika demikian, kalian

melahirkan 10 anak sekalipun akan sulit untuk mendapatkan donor yang

cocok untuk Monika. Beberapa lama kemudian, ia memandang Martha dan

berkata Kelihatannya, kalian harus mencari ayah kandung Monika.

Barangkali sumsum tulangnya cocok untuk Monika.Tetapi, apakah kalian

bersedia membiarkan ia kembali muncul dalam kehidupan kalian ? Martha

berkata : “Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya. Bila

ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya.

Dr. Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu.

Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya

memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan

nama samaran. November 2002, di koranWayeli termuat berita pencarian

ini, seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang

pelaku pemerkosaan waktu itu berani muncul, demi untuk menolong

sebuah nyawa seorang anak perempuan penderita leukimia !

Begitu berita ini keluar, tanggapan masyarakat begitu menggemparkan.

Kotak surat dan telepon Dr. Adely bagaikan meledak saja, kebanjiran

surat masuk dan telepon, orang-orang terus bertanya siapakah wanita

ini Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat memberikan bantuan

padanya. Tetapi Martha menolak semua perhatian mereka, ia tak ingin

mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi identitas

Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.

Seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini

berakhir.

(suratkabar Roma) Komentar dengan topik : Orang hitam itu akan

munculkah ?

Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita

sekarang menilainya Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk

menghakiminya Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa

lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari

ini ?

Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporakporandakan

perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia

seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki

lembaran tergelam merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu.

Ia adalah sang peran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka,

Ajili yang sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring

panggilan. Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih

muda, ia yang tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja

sejak dini. Ia yang begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya

sendiri bekerja dengan giat demi mendapatkan sedikit uang dan

penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya, bosnya merupakan seorang

rasialis, yang selalu mendiskriminasikann ya. Tak peduli segiat apapun

dirinya, selalu memukul dan memakinya. 17 Mei 1992, merupakan ulang

tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang kerja lebih awal merayakan

hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah kesibukan ia memecahkan

sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya, memaksanya untuk menelan

pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul sang bos, lalu berlari

keluar meninggalkan restoran. Ditengah kemarahannya ia bertekad untuk

membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan lebat, tiada

seorangpun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha.

Untuk membalaskan

dendamnya akibat pendiskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang

tak berdosa ini.

Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu

juga Ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju

Napulese, meninggalkan kota ini.

Di Napulese , ia bertemu keberuntungannya. Ajili mendapatkan pekerjaan

dengan lancar di restoran milik orang Amerika. Kedua pasangan Amerika

ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya dengan anak

perempuan mereka, Lina, dan pada akhirnya juga mempercayainya untuk

mengelola toko mereka. Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas, tak

hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3 anak

yang lucu. Dimata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili

merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati

nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah

diperbuatnya. Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan

melindungi wanita yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup

damai dan tentram. Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak

memberitahu seorangpun. Pagi hari itu, Ajili berkali-kali

membolak-balik koran, ia terus mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah

pelaku yang dimaksud. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan bahwa

wanita malangitu mengandung anaknya, bahkan menanggung tanggung jawab

untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah miliknya.

Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no.Telepon

Dr.Adely.Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon,

iatelah menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia

bersedia mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi

terburuknya ini, anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan

kehilangan keluarganya yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga

akan kehilangan penghormatan masyarakat disekitarnya. Semua yang ia

dapatkan dengan ditukar kerja kerasnya bertahun-tahun. Malam itu, saat

makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus Martha.

Sang istri, Lina berkata : “Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku

diposisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak

hasil perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha,

ia sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima

anak yang demikian”.

Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan tiba-tiba

mengajukan

pertanyaan: Kalau begitu, bagaimana kau memandang pelaku pemerkosaan

itu ?

Sedikitpun aku tak akan memaafkannya !!! Waktu itu ia sudah membuat

kesalahan, kali ini juga hanya dapat meringkuk menyelingkupi dirinya

sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu egois, begitu pengecut !

Ia benar-benar seorang pengecut ! demikian istrinya menjawab dengan

dipenuhi api kemarahan. Ajili mendengarkan saja, tak berani mengatakan

kenyataan pada istrinya.

Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar

dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras

itu, dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit

tangis wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri

:

“Aku ini sebenarnya orang baik, atau orang jahat ?”

Mendengar bunyi napas

istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk

berdiri.

Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya.

Istrinya mulai merasakan

adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian padanya

dengan menanyakan apakah ada masalah Dan ia mencari alasan tak enak

badan untuk meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan

menyapanya ramah :

“Selamat pagi, manager !” Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi

pucat pasi, dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia

merasa dirinya hampir menjadi gila saja rasanya. Setelah berhari-hari

memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi terus diam saja, iapun

menelepon Dr.

Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya supaya tetap tenang

: “Aku ingin mengetahui keadaan anak malang itu. Dr. Adely

memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr.Adely menambahkan

kalimat terakhirnya berkata :”Entah apa ia dapat menunggu hari

kemunculan ayah kandungnya. Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili

yang paling dalam, suatu perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir

keluar, bagaimanapun anak itu juga merupakan darah dagingnya sendiri !

Ia pun membulatkan tekad untuk menolong Monika. Ia telah melakukan

kesalahan sekali, tak boleh kembali membiarkan dirinya meneruskan

kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun mengobarkan keberaniannya

sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala rahasianya.

Terakhir ia berkata : “Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika.

Aku harus menyelamatkannya. Lina sangat terkejut, marah dan terluka,

mendengar semuanya, ia berteriak marah :”Kau PEMBOHONG !”

Malam itu juga ia membawa

ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah ayah ibunya. Ketika ia

memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan kedua suami-istri

tersebut dengan segera mereda.

Mereka adalah dua orang tua yang penuh pengalaman hidup, mereka

menasehatinya : “Memang benar, kita patut marah terhadap segala

tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah kamu memikirkan, ia

dapat mengulurkan dirinya untuk muncul, perlu berapa banyak keberanian

besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum sepenuhnya

terkubur. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang pernah melakukan

kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya Ataukah seornag suami

yang selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya ?” Mendengar ini

Lina terpekur beberapa lama.

Pagi-pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap

mata sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya

berkata :

“Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan menemanimu !”

3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr.

Adely.8 Februari,

pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth , demi untuk pemeriksaan DNA

Ajili.

Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika.

Ketika Martha mengetahui

bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan

dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia

terus memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya

dipenuhi perasaan terharu. Segalanya berlangsung dalam keheningan.

Demi untuk melindungi pasangan Ajili dan pasangan Martha, pihak RS

tidak mengungkapkan dengan jelas identitas mereka semua pada media,

dan juga tak bersedia mengungkapkan keadaan sebenarnya, mereka hanya

memberitahu media bahwa ayah kandung Monika telah ditemukan.

Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini.

Mereka terus-menerus

menelepon, menulis suratpada Dr. Adely, memohon untuk dapat

menyampaikan kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus

penghormatan mereka padanya. Mereka berpendapat : “Barangkali ia

pernah melakukan tindak pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !”

10 Februari 2003, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat

bertemu muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk

menemui mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui

hal ini.

18 Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha

bertemu langsung dengan Ajili. Ajili baru saja memangkas rambutnya,

saat ia melihat Martha, langkah kakinya terasa sangatlah berat, raut

wajahnya memucat.

Martha dan suaminya melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling

menjabat tangan masing-masing, sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa

suara menahan kepedihan, sebelum akhirnya air mata mereka bersama-sama

mengalir.

Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata :

“Maaf…mohon maafkan aku !” Kalimat ini telah terpendam dalam
hatiku
selama 10 tahun.

Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung

kepadamu.

Martha menjawab : “Terima kasih Kau dapat muncul.

Semoga Tuhan memberkati,

sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku”.

19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang

Ajili.

Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika Sang

dokter berkata dengan antusias : “Ini suatu keajaiban !”

22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya

terkabulkan.

Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika

telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar

RS dengan sehat walafiat.

Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan secara khusus

mengundang Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka untuk

merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely

membawa suratnya bagi mereka. Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan

dan rasa malunya berkata :”Aku tak ingin kembali mengganggu kehidupan

tenang kalian. Aku berharap Monika berbahagia selalu hidup dan tumbuh

dewasa bersama kalian. Bila kalian menghadapi kesulitan bagaimanapun,

harap hubungi aku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu

kalian”. Saat ini juga, aku sangat berterima kasih pada Monika, dari

dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang memberiku kesempatan untuk

menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki kehidupan yang

benar-benar bahagia di saparoh usiaku selanjutnya.

Ini adalah hadiah yang ia

berikan padaku !

(Italia post)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: