Dibutakan Oleh Ambisi

8 09 2008

Dibutakan Oleh Ambisi

Oleh: Sunanto

Yuli Nursanto, seorang calon Bupati Ponorogo menjadi gila dan mencoba untuk bunuh diri setelah gagal memenuhi ambisinya menjadi orang nomor satu di Ponorogo.

Kabarnya pengusaha yang tergolong sukses ini menjadi hilang ingatan karena terlilit hutang milyaran rupiah dan digugat cerai oleh isterinya.

Polisi dan masyarakat yang mencoba mencegah aksi bunuh dirinya tersebut banyak yang tertawa geli sebab sang calon Bupati tersebut berlari di tengah jalan hanya dengan memakai celana dalam.

Saya juga sempat tersenyum geli saat melihat kejadian tersebut di TV.

Kejadian ini memang langka dan agak lucu, tetapi bila direnungkan ada pelajaran penting yang bisa diambil.

Sebelum mencalonkan diri menjadi Bupati, Yuli sebenarnya sudah memiliki kekayaan yang bisa dikatakan berkelebihan.

Yuli memang bukan seorang konglomerat, tapi dia memiliki sejumlah bus dan perusahaan tenaga kerja dengan aset milyaran rupiah sehingga dia dipandang sebagai seorang pengusaha daerah yang sukses.

Saya yakin, sebagai seorang pengusaha dia pasti telah memperhitungkan semua resiko bila ia gagal menjadi Bupati.

Lalu mengapa dia mengambil resiko untuk menjadi miskin demi untuk meraih sebuah jabatan ?

Yang namanya manusia memang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.

Sudah punya harta ingin punya kekuasaan; sudah punya harta dan kekuasaan ingin punya isteri lagi.

Anthony De Mello mengatakan ketika masih kecil setiap kita telah diprogram untuk tidak bahagia, kita diajarkan untuk memiliki kebahagiaan kita harus memiliki uang, jabatan, sukses, isteri yang cantik atau suami yang ganteng, komunitas dan lain-lain.

Kita sudah diajari bahwa jika kita tidak memiliki semua itu kita tidak mungkin bisa bahagia.

Oleh karena itu kita berusaha sekuat tenaga mengejar semua itu supaya kita merasa bahagia.

Akan tetapi, setelah semuanya itu kita miliki ternyata bukan kebahagiaan melainkan kekosongan yang kita rasakan.

Itulah sebabnya banyak orang yang sepertinya sudah memiliki segalanya bisa menjadi seorang pecandu narkoba.

Sejak kecil saya telah ditanamkan oleh ibu saya bahwa bila ingin bahagia saya harus menjadi orang kaya.

Kebetulan saya cakap mengajar sehingga mampu memberikan les privat sejak duduk di bangku SMA.

Uang yang saya peroleh jauh melebihi kebutuhan tetapi saya tetap tidak merasa bahagia.

Setelah lulus kuliah, saya mendapatkan pekerjaan cukup prestise yaitu menjadi seorang konsultan tetapi tetap saya merasa tidak bahagia dengan jabatan dan uang yang diperoleh.

Lalu Tuhan mengijinkan saya kehilangan pekerjaan tersebut dan itu sempat membuat jiwa saya goncang.

Akan tetapi, Tuhan itu baik sebab Dia sangat mengetahui jabatan, karir, kesuksesan dan uang tidaklah dapat memberikan kebahagiaan kepada saya, hanya kasihNya yang dapat memberikan kepuasan yang sejati.

Proses yang harus saya jalani memang menyakitkan namun pada akhirnya memberikan kepuasan dan kebahagiaan yang sejati.

Proses pengisian selalu lebih dahulu diawali dengan proses pengosongan.

Maukah Anda mati dari semua ambisi dan mengalami proses pengosongan tersebut ?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: